Sebelum saya memberikan sajian singkat saya menyoal tulisan tangan asli Ayah (KH. Ahmad Syahid) mengenai Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid). Alangkah baiknya dirasa-rasa saya perlu menulis kepada handa taulan sedikit pengalaman saya agar bisa meyakinkan tentang apa-apa yang saya tulis ini kelak bisa dipertanggung jawabkan di dunia maupun di akhirat Karena untuk menghadapi arus zaman teknologi seperti sekarang ini, yang kita semua rasakan. Kita perlu berhati-hati mengenai informasi-informasi yang banyak beredar dan tersebar dalam berbagai situs-situs internet yang tak bisa semuanya kita dapat jadikan sumber dasar kutipan atau kita telan mentah-mentah. Tak sedikit juga situs informasi yang mengatas namakan agama yang seharusnya menyebar pesan-pesan kebaikan, namun yang terjadi malah sebaliknya jauh dari norma-norma agama yang ada. Bahkan dibeberapa media-media provokatif tak jarang kita temukan, yang memiliki tujuan tertentu atau demi kepentingan golongan yang bersifat politis. Oleh sebab itu, saya sebagai penulis sangat berhati-hati dalam memberikan sajian ini kepada anda semua. Karena ini menyangkut seorang tokoh bangsa sekaligus tokoh agama yang cukup besar, dan disegani. Ulama Indonesia yang tak diragukan lagi kesohorannya maupun kekaramahannya. Sebagai warga dan santri Nahdiyyin saya sangat menghormati dan menggagumi kyai-kyai NU yang berfikir secara logis, dan kuat yang belandaskan hadits maupun Al-Quran yang tujuannya untuk kebaikan global. Saya akan sedikit menceritakan mengapa saya antusias dan serius dalam mengkaji tulisan saya ini. Harapan saya apa yang tertulis ini bisa bermanfaat. Dan mudah-mudahan bisa menjadi sumber yang bisa dijadikan pelajaran untuk kita dan tetap berharap ada dalam keridhoan Allah SWT.
Apa bila bertanya, kenapa saya bisa mendapatkan tulisan tangan asli Ayah atau KH. Ahmad Syahid mengenai sosok KH. Aburahmman Wahid? Awalnya saya merasa penasaran dan rasa ingin tahu saya cukup besar dan menggebu-gebu, mengenai organisasi-organisasi Islam yang terdapat di Indonesia seperti NU, Muhammaddiyah, Persis dengan menyebut beberapa. Untuk mengetahui organisasi mana yang terkait dan berhubungan dengan aktualisasi ibadah dan keilmuan Islam saya. Lantas saya pun banyak membaca buku, jurnal dan bertanya kepada para ustadz dan orang tua saya, mengenai organisasi yang seharusnya saya pegang dengan sungguh-sungguh, yaitu Nahdhatul’ulama yang berangkat dari konsep dan landasan Ahlusunnah Wal jama’ah. Kemudian saya berfikir kembali dan merasa sangat perlu bahwa sebelum mengetahui organisasi Islam saya itu. Saya harus mengenali lebih dekat dulu kyai-kyai terkemuka NU. Karena kebetulan masih kuliah di STAI, saya merasa ini adalah kesempatan untuk saya mendalami tentang kyai-kyai yang berpengaruh di NU bahkan di Indonesia. Maka berangkat dari situlah saya mulai tertarik untuk menyusun dan meneliti skripsi tentang pemikiran-pemikiran monumental dari salah satu kyai paling berpengaruh di NU, yang juga sering disebut seorang Wali oleh warga Nadhiyyin yaitu KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur putra sulung dari KH. Wahid Hasyim (mentri agama pertama Republik Indonesia) yang merupakan kebanggaan kita sebagai warga Nahdiyyin, karena memiliki seorang tokoh seperti beliau yang bisa menjadi suri toladan, tokoh pejuang hak kaum minoritas, tokoh pemikiran dan pendidikan Islam, tokoh yang bijaksana yang berjuang untuk kemanusiaan yang mengenalkan agama Islam di Indonesia yang rahmatan lil’alamin.
Sebagai seorang santri, kepada siapa saya harus bertanya? Yah pastinya kiai yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Quran Al-Falah, Bandung tempat saya mondok yaitu KH. Ahmad Syahid yang biasa disapa Ayah. KH. Ahmad Syahid menurut para santri senior dan didengar cerita-cerita dari mereka adalah sahabat dekat sekaligus teman diskusi KH. Abdurrahman Wahid, selama bertahun-tahun.
Dalam proses penelitian ini, saya seperti biasa halnya para santri yang merasa malu ketika harus menghadap ke kyainya. Saya pun Bismillah dengan laahaulaa, agar semuanya dilancarkan dan diawali insyaallah dengan niat baik. Pada tanggal 19 Februari 2016 setelah salat jum’at. Saya pun menghadap kepada Ayah (KH. Ahmad Syahid), untuk wawancara, dan memastikan kapan ada waktu luangnya beliau. Ternyata beliau menyuruh untuk menunggu sampai hari Rabu tanggal, 24 Februari 2016, selagi nunggu hari itu saya pun mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang saya kira penting untuk diajukan dan selain itu juga mempersiapkan kartu memori hp untuk dikosongkan demi kepentingan wawancara yaitu sebagai penyimpan file rekaman agar cukup, namun saat tiba waktunya, rencana itu berbeda, ternyata saat saya menemui beliau, KH. Ahmad Syahid atau Ayah meminta saya menyerahkan selembar kertas abstrak dari skripsi saya, tentunya saya langsung berikan kepada beliau. Lalu beliau memberikan waktu untuk menemuinya kembali di waktu yang lain, setelah lamanya satu minggu dari hari itu.
Tepatnya pada tanggal 9 Maret 2016 bertepatan dengan adanya Gerhana Matahari Total, setelah selesainya sholat sunah Gerhana saya merasa saat itu adalah moment yang tepat untuk menanyakannya kembali, melihat dari keluangan waktu beliau di hari libur itu. Saat saya kembali ke rumah KH. Ahmad Syahid dan menanyakannya kepada beliau menyoal wawancara beliau berucap, “tunggu mal nanti kesini lagi”, karena memang saya melihat beliau sedang dalam keadaan sibuk dan duduk di meja yang ada di ruang tengah rumahnya. Saya bergegas pergi pamit ke kobong dan berdiam di kobong. Dalam hati bergumam “mungkin beliau sedang sibuk, dan belumlah saatnya” Setelah beberapa jam kemudian saat saya ngobrol dengan teman sekobong yang lain, teman saya bernama Saepudin, yang baru datang setelah selesai mencuci mobil Ayah (KH. Ahmad Syahid), memberikan 5 lembar kertas yang isinya langsung tulisan tangan Ayah (KH. Ahmad Syahid), pada judulnya tertulis dengan sepidol hitam, tertulis “K.H. Abdurrahman Wahid dimata H. Ahmad Syahid)” dan seterusnya tertulis dengan pensil dengan bentuk tulisan miring bersambung. Alhamdulillah Ya Allah, Jazakallah khoiron katsir, saya merasa bersyukur, tiada tara karena bisa mendapatkan langsung hasil dari tulisan tangan beliau terimakasih Ayah, panutanku, guruku untuk semua yang telah diberikan.
Tepatnya pada tanggal 9 Maret 2016 bertepatan dengan adanya Gerhana Matahari Total, setelah selesainya sholat sunah Gerhana saya merasa saat itu adalah moment yang tepat untuk menanyakannya kembali, melihat dari keluangan waktu beliau di hari libur itu. Saat saya kembali ke rumah KH. Ahmad Syahid dan menanyakannya kepada beliau menyoal wawancara beliau berucap, “tunggu mal nanti kesini lagi”, karena memang saya melihat beliau sedang dalam keadaan sibuk dan duduk di meja yang ada di ruang tengah rumahnya. Saya bergegas pergi pamit ke kobong dan berdiam di kobong. Dalam hati bergumam “mungkin beliau sedang sibuk, dan belumlah saatnya” Setelah beberapa jam kemudian saat saya ngobrol dengan teman sekobong yang lain, teman saya bernama Saepudin, yang baru datang setelah selesai mencuci mobil Ayah (KH. Ahmad Syahid), memberikan 5 lembar kertas yang isinya langsung tulisan tangan Ayah (KH. Ahmad Syahid), pada judulnya tertulis dengan sepidol hitam, tertulis “K.H. Abdurrahman Wahid dimata H. Ahmad Syahid)” dan seterusnya tertulis dengan pensil dengan bentuk tulisan miring bersambung. Alhamdulillah Ya Allah, Jazakallah khoiron katsir, saya merasa bersyukur, tiada tara karena bisa mendapatkan langsung hasil dari tulisan tangan beliau terimakasih Ayah, panutanku, guruku untuk semua yang telah diberikan.
Semoga Ayah (KH. Ahmad Syahid) berserta keluarga selalu diberi keberkahan sehat jasmani danrohani serta panjang umur. Amin Ya Robbal Alamin. Adapun isi dari kertas 5 lembar yang ditulis langsung dari tangan beliau itu, KH. Abdurrahman Wahid dimata KH. Ahmad Syahid sebagai berikut:
Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid) dimata Ayah Syahid (K.H. Ahmad Syahid)
Selama kurang lebih tiga tahun sebelum wafat. Saya sempat menjadi orang yang bersama-sama dengan seorang Guru Bangsa Indonesia, siapakah gerangan? Siapa lagi kalo bukan KH. Abdurrahman Wahid (GusDur) bergelar“Tokoh Kontropersi”.
Kurang lebih enam bulan setelah peristiwa repormasi saya digegerkan dengan informasi bahwa Gus Dur mau silatirahmi ke Pesantren al-falah kepada saya (Ahmad Syahid) nyaris tidak ada persiapan, saya hanya mengurus-ngurus kursi, menjelangnya beliau telah ada didepan rumah saya, tanpa persiapan. Saya menjemput beliau sampai masuk rumah, dan tidak tertahankan banyak orang yang ingin tahu dari dekat.
“Gus Dur”
Kemudian terjadilah obrolan yang bermacam-macam maklum ketika itu wartawan, mantan mentri, pejabat, kiai, ustadz, santri dan rakyat kecil menjadi satu. Sejak itu pikiran saya menyimpulkan “sejauh inilah Gus Dur disenangi dan diterima oleh lapisan-lapisan orang ”. Muncul lagi pertanyaan dalam hati, “Mengapa disenangi, diterima oleh lapisan orang”.
Gus Dur, bukan Koruptor, bukan Diktator. Pernah ada tuduhan datang bantuan dari Sultan Brunei Darusalam, yang menjadi dasar pemberhentian Gus Dur dari Jabatan Presiden RI, tapi sampai saat ini tidak pernah dimeja hijaukan sehingga belum diketahui salah benarnya beliau, demikian sampai hari ini Gusdurian menunggu keputusan pengadilan, karena kalau tidak jelas- salah benarnya, orang-orang yang menggantikannya itu sejauh mana legalitasnya, sekalipun melalui pemilihan pemilu. “Keabsahan Pemerintah” tentu diketahui oleh Bangsa Indonesia karena itu jangan disalahkan kalau ada orang kampung dijawa timur yang mengatakan bahwa Presiden saya sampai hari ini masih “Gus Dur”.
Ketika itu Gus Dur ngobrol, bahwa PKB itu harus kembali ke pesantren karena kalau dipmpin kiai-kiai, PKB akan menjadi besar. Lalu mengajak saya untuk mendampingi beliau di Jakarta (itu sepintas cerita saya, mengapa saya masuk di PKB Gus Dur).
Tidak ada jaminan sekecil apapun kepada saya bahkan sampai jaminan sosaial pun tidak ada, saya hanya berniat “Khidmat” saja kepada cucunya kiai yang mungkin moyang saya ada yang pernah berguru kepada Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari. Waktu itu saya hanya bergumam dalam hati,” Ya Allah kalau kebersamaan saya dengan Gus Dur itu baik, berikanlah saya rizkinya”, Alhamdulillah selama tiga tahun saya hanya pernah mendapat transportasi ketika itu, Rp. 100. 000 dari kegiatan Halakoh Kebangsaan di Hilton Hotel.
Kadang dalam satu minggu ada dua kali rapat di Jakarta. Alhamdulillah bisa saya ikuti dengan baik. Keinginan Gus Dur “Mengembalikan” PKB kepesantren, menjadikan PKB sebagai Partai Imam bukan partai Mamum, tidak berhasil.
Walau demikian barisan Gusdurian jangan terkelabui, terkontaminasi, oleh tokoh-tokoh yang merugikan bangsa dan Negara. Dibalik kecerdasan Gus Dur ada sifat-sifat lain yang mendukung konsistensinya yaitu, Amanah dan Tabligh. Amanah, yang dimiliki Gus Dur tidak tercemari oleh sifat tergila-gila materi Hubudunia, beliau itu apa adanya, ketika suatu hari saya dapat telepon bahwa besok subuh harus sudah dikediamannya, pagi-pagi saya bersama beliau sarapan, apa isi sarapan itu? Nasi sekedar cukup, balado telur ayam, dan sayur waluh siam, saya bergumam.”Ko sarapan seorang mantan presiden seperti ini? “ Itu hanya rasa kaget saya kepada seorang mantan presiden yang sarapannya seperti itu. Itulah Amanah yang sekaligus dengan tablighnya, dengan ditopang seperti ini tidak ada beban dalam kehidupan selain ia hanya takut pada ‘Allah’ saja.
Demikianlah isi dari pada tulisan tersebut mohon maaf apabila ada kesalahan tulisan atau kata-kata yang kurang berkenan.









0 komentar:
Posting Komentar